Kamis, 07 April 2011

Jufri Zaituna

keburan tuhan

kudatangi keburan-kuburan tuhan dalam setiap epitaf perjumpaan. saat malam mati tenggelam dalam conberan bersama anjing-anjing yang menyalak nyaring. taring yang seanyir alcohol, seruncing dingin di bawah pohon beringin. menyeruak bercampur bau sampah basah kencing pelacur.

sepasang kekasih

sepasang kekasih saling menutup matanya dengan sapu tangan. mencari hati keabadian dalam keremangan cinta yang kian berlarian.

apa yang mesti kukatakan

apa yang mesti kukatakan. selain luka teramat dalam. saat kita tak lagi menukar senyum ranum. yang di petik dari tangkai hati paling ujung. bersama duri-durinya yang seruncing kesendirian.

kepada mereka

aku tak mengerti pada mereka yang selalu mencemohku karena hanya menulis puisi, bukan yang lain saja. kata mereka: penyair hanya bermain-main dengan kata. penyair hanya mengulang-ngulang yang telah ada. dan bila suatu saat nanti mereka ditakdirkan merasakan nikmatnya mengecap manisnya madu puisi, mereka akan segila kupu-kupu yang tak lagi mau mengepakkan sayapnya, meninggalkan taman kata-kata yang tumbuh bermacam-macam bunga makna.

darah

aroma darah para pejuang kembali menyengat kita. mendesir seperti angina yang mengibarkan bendera di tiang-tiang pinggir jalan. suara merdeka kembali berguguran dari mulut orang-orang yang masih tak tau apa arti kemerdekaan. di negeri yang masih menyajikan sup darah di gedung-gedung dan hotel-hotel.

seekor ikan

ada seekor ikan menggelepar kesakitan ditengah aspal yang membentang licin. entah dari mana ia datang. apa ia melompat dari parit yang airnya tak lagi dikatakan air melaikan lumpur atau mungkin ada seseorang yang baru membelinya untuk di makan lalu adsa yang melompat. sudak berapa jam ia menahan nafasnya tanpa air? tak adakah seorang pun yang mau mengambilnya walau ia satu ekor. untuk di buatkan kolam kecil? dari pada ia tertindih ban atau termakan anjing-anjing yang lupa jalan arah pulang.

burung merak

kini burung merak telah pergi meninggalkan belantara kata-katanya. mengepakkan sayapnya menuju sangkar yang dirangkai dengan bunga kamboja.

2009

Jufri A. Baiytuna, lahir 15 Juli 1987 Sumenep, Madura. kini bergerak diporos kajian sastra, budaya dan seni KUTUB Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar